Kamis, 02 Juli 2015

tanya:
apa yang harus dilakukan seorang hamba untuk tidak mengulang dosa yang sama? karena si hamba sebenarnya telah punya rasa takut akan mengerjakannya lagi. apakah seorang hamba benar2 mampu menjauhi perbuatan dosa? saya melihat kadang seseorang begitu tidak berdaya dari berbuat kesalahan yang sama.

jawab :
untuk menjawab persoalan ini terlebih dulu kita mengertikan kepada hati si hamba pelaku dosa bahwa salah satu fungsi Islam adalah agama solusi. seseorang ketika melakukan sesuatu pasti ada niat dan tujuan. terkadang untuk menggapai tujuannya seseorang hanya terfokus pada satu cara/jalan, celakanya jalan pintas yang hakikatnya justru membawa banyak resiko yang tidak ringan untuk ditanggung. mungkin sedang lupa bahwa agama telah menawarkan aneka jalan alternatif yang ringan, tepat, damai dan indah, berpahala pula. jika telah kita sadarkan hati hamba itu lalu menerimanya, maka baik baginya. tapi jika tidak maka hati harus kita paksa, seperti memaksa seseorang yang sedang sakit untuk meminum obat pajit demi kesembuhannya.

dosa zinah

tanya :
saya memikirkan hukuman rajam sampai mati pada orang dewasa/tua yang berzinah. apa yang akan terjadi jika hukuman ini tidak terlaksana di dunia? bagaimana hakikat taubat mereka yang sudah mengerjakannnya? benarkah jika seseorang berlaku demikian Allah langsung mencabut ni'matNya?

jawab:
memang terlaksananya hukuman sesuai ketentuan bisa jadi akan mengurangi bahkan menghapus dosa hamba yang telah bersungguh2 bertaubat. bahkan taubatnya akan diterima sebelum terlaksananya hukuman yang tdk diberikan. yang tidak diberi pengampunan adalah :
1. yang terus menerus melakukan dosa
2. yang mati dalam keadaan kafir

QS. An Nisa' : 17-18
إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِنْ قَرِيبٍ فَأُولَئِكَ يَتُوبُ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا    (١٧) وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّى إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الآنَ وَلا الَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ أُولَئِكَ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا (١٨
17. Sesungguhnya tobat[11] di sisi Allah hanyalah bagi mereka yang melakukan kejahatan karena tidak mengerti[12], kemudian segera bertobat[13]. Tobat mereka itulah yang diterima Allah. Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.
18. Dan tobat itu tidaklah diterima Allah dari mereka yang melakukan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka[14], (barulah) dia mengatakan, "Saya benar-benar bertobat sekarang[15]." Dan tidak (pula diterima tobat) dari orang-orang yang meninggal sedang mereka di dalam kekafiran[16]. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan azab yang pedih. 

QS. Al Fajr :15-16
 15. Maka adapun manusia, apabila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya, dan memberinya kesenangan, maka dia berkata, "Tuhanku memuliakanku"
16. Namun apabila Tuhan mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, "Tuhanku telah menghinakanku"
15. [10]Maka adapun manusia, apabila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata, "Tuhanku telah memuliakanku". - See more at: http://www.tafsir.web.id/2013/03/tafsir-al-fajr.html#more
15. [10]Maka adapun manusia, apabila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata, "Tuhanku telah memuliakanku".
16. Namun apabila Tuhan mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, "Tuhanku telah menghinakanku.”
- See more at: http://www.tafsir.web.id/2013/03/tafsir-al-fajr.html#more

artinya : anugerah ni'mat dan siksa selama manusia hidup di dunia sesungguhnya berfungsi/bersifat ujian dan peringatan agar hambaNya mau kembali ke jalan (fithrah)Nya








15. [10]Maka adapun manusia, apabila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata, "Tuhanku telah memuliakanku".
16. Namun apabila Tuhan mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, "Tuhanku telah menghinakanku.”
- See more at: http://www.tafsir.web.id/2013/03/tafsir-al-fajr.html#more
فَأَمَّا الإنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ     (١٥) وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ - See more at: http://www.tafsir.web.id/2013/03/tafsir-al-fajr.html#more
فَأَمَّا الإنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ     (١٥) وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ - See more at: http://www.tafsir.web.id/2013/03/tafsir-al-fajr.html#more

hasud

tanya ustadz tentang hasud

tanya :

saya baru mendengar seorang teman sembuh dari sakit menahunnya. hati saya lega dan inshaa Allah ridho mendoakannya. tapi ketika saya mendengar kabar tentang seseorang berperangai buruk yang saya kenal di ambang kesuksesan, sebagian hati saya tidak rela. meski sebagian lainnya mengingatkan agar tidak ada hasud. dan bahwa rizqi tiap orang ada di tangan Allah. bagaimana implikasinya dengan al khoir dan al ma'ruf? apakah termasuk didalamnya? atau ada sudut pandang lain?

jawab :
hal yang dirasakan sangat wajar karena itu pembawaan manusia (pada masing2 diri kita ada fujur dan taqwa). normal. bukan manusia kalau tidak memilikinya. tapi fithrah (al-khair) kecenderungan kpd nilai2 ilahiah-lah yang disarankan agama agar dipelihara dan ditumbuhkembangkan. ini mengenai sikap. sedang menyangkut apa yang sedang disikapi, coba dibaca QS. Ali Imran : 178 atau QS. Al Mu'minun : 55-56 atau QS. Taubah : 85

QS. Ali Imran : 178
Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir itu mengira bahwa tenggang waktu yang Kami kepada mereka[5] adalah lebih baik baginya. Sesungguhnya tenggang waktu yang Kami berikan kepada mereka hanyalah agar dosa mereka semakin bertambah; mereka akan mendapat azab yang menghinakan[6].

QS. Al Mu'minun : 55-56
 55. Apakah mereka mengira bahwa Kami memberikan harta dan anak-anak kepada mereka itu (berarti bahwa),
  56. Kami segera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka[12]? (Tidak), tetapi mereka tidak menyadarinya[13]

QS. At Taubah : 85
 85. Dan janganlah engkau (Muhammad) kagum terhadap harta dan anak-anak mereka[17]. Sesungguhnya dengan itu Allah hendaki menyiksa mereka di dunia[18] dan agar nyawa mereka melayang, sedang mereka dalam keadaan kafir.